Rabu, 08 Mei 2019

Heriyanto, Dari Karyawan Swasta Sampai Bos Roti


Mas Heri sapaan akrabnya, bapak berumur 30 tahun asal Desa Mernek, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Siang itu mas Heri sedang sibuk memantau aktivitas produksi di pabrik sederhananya yang memproduksi roti. Tak pernah terpikiran sedikit pun dalam hati bisa sampai sejauh ini. Bermodal nekat dan kerja keras akhirnya bisa merasakan hasilnya. Saya sempat berbincang-bincang dengan beliau, mendengarkan cerita dari mulai kuliah sampai sukses seperti sekarang. Berikut petikan wawancara saya dengan beliau.

Selamat siang mas, sedang sibuk apa nih?
Iya lagi liat-liat aja ini produksi, sekalian ngecek persediaan bahan bakunya.

Waktu kuliah dulu ambil jurusan apa ya mas kalau boleh tau?
Dulu itu kan saya merantau ya ke Malang buat kuliah, tapi dari orang tua tidak menyanggupi dari finansial. Akhirnya saya nekat aja berangkat ke Malang, daftar kuliah jurusan ekonomi PTS di Kota Malang. Nah saya itu daftarnya ambil kelas malam, kelas karyawan, jadi siangnya bisa buat kerja.

Owh jadi kerja juga kuliah juga, itu mas kerjanya dimana?
Dulu saya diterima kerja di percetakan gitu, tapi di daerah Sidoarjo. Sempet ragu mau ambil karena jarak kantor yang di Sidoarjo, dengan kosan di Malang lumayan jauh dan makan waktu. Tapi saya inget daripada engga kerja, gimana caranya mau kuliah. Jadilah saya ambil itu kerjaan, kerjanya itu dari jam 8 sampai jam 5 sore, sedangkan kuliah mulai jam setengah 7. Jadi dari kantor langsung buru-buru ke kampus, kadang engga ikut jam pertama, masuknya jam yang kedua doang, begitu terus saya lakukan sampai lulus kuliah.


Mas Heri

Lalu setelah lulus kuliah bagaimana kelanjutannya?
Alhamdulillah saya lulus tepat waktu, terus karena saya merasa bosan di percetakan akhirnya saya mengundurkan diri, dan melamar di perusahaan-perusahaan dengan ijazah S1. Alhamdulillah juga keterima di Perusahaan Swasta jadi staff di kantor.

Kerja di Kantor itu bertahan berapa lama mas?
Di kantor tersebut ada 2 tahunan bekerja. Namun waktu itu saya dapat kabar kalau orang tua sakit. Karena saya merasa itu tanggung jawab saya akhirnya saya memberanikan diri untuk keluar dari kantor dan pulang kampung ke Cilacap untuk merawat orang tua.

Berarti dulu kondisinya mas engga bekerja atau bekerja lagi di Cilacap?
Ada sekitar 5 bulanan saya diam aja dirumah, sambil merawat orang tua, bolak balik rumah sakit, operasi dan segala macam itu masih bisa dengan tabungan saya. Namun kemudian saya mulai untuk cari kerja lagi, berhubung kondisi orang tua juga sudah membaik, tapi cari kerja di Cilacap itu susahnya minta ampun, disini jarang ada lapangan pekerjaan, kalaupun ada paling hanya buruh pabrik dan itupun gaji hanya UMR sini. Awalnya sempat mikir untuk merantau lagi, tapi sayanya engga tega liat orang tua kalau ditinggal lagi, akhirnya yaudah disini aja.

Terus bagaimana ceritanya mas bisa bangun pabrik roti seperti ini?
Jadi karena susah dapat kerja, saya silaturahmi ke rumah temen, ngobrol-ngobrol karena udah lama juga engga ketemu. Teman saya itu dirumahnya buka usaha kue bolu dan brownies bareng istrinya. Akhirnya saya iseng tanya buat-buat gini modalnya banyak engga sih, sama nanya omset dalam sebulan. Terus dia cerita kalau omset nya itu bisa 4-7 juta/bulan tergantung banyaknya pesanan. Akhirnya saya iseng bilang ke dia, bantuin saya dong buat buka usaha seperti ini juga di rumah. Terus dia bilang kalau mau buat roti aja, nanti saya ajarkan, tapi saya cuma bisa roti tawar aja. Akhirnya saya mengiyakan tawarannya tersebut.


Denah Lokasi Pabrik Mas Heri

Akhirnya mulai buat roti tuh mas?
Iya saya diajarkan selama seminggu buat roti tapi itu cuma varian roti tawar aja. Akhirnya saya pikir kalau hanya roti tawar saja kurang menarik, berhubung sekarang teknologi sudah canggih saya liat di youtube tutorial membuat roti isi seperti rasa coklat, keju, dan lain-lain.

Awalnya itu buat rotinya manual atau sudah menggunakan mesin ya mas?
Dulu itu pertama-tama mesinnya itu cuma oven aja buat manggang, itu juga beli bekas. Untuk mesin yang lain seperti pengaduk, kita masih pakai mixer manual. Akhirnya sekeluarga buat roti, awalnya roti tawar sama roti pandan, terus kita kirim-kirim ke warung sambil promosiin dengan kita kasih nama dagang Lestari Mandiri.

Berarti sistemnya taruh di warung terus di cek setiap saat?
Iya roti kita taruh di warung, nanti sekitar 10 hari kemudian kita cek, habis engganya. Dan Alhamdulillah roti kita itu disenangi warga sekitar, katanya rotinya enak, adonannya lembut, engga keras, dan lain-lain.

Lalu bisa rekrut pekerja seperti ini ceritanya gimana mas?
Karena konsumen rata-rata suka saya nekat minjem uang buat beli mesin mixer, mesin pembuat krim, sama oven satu lagi itu semua bekas, jadi kita dari awal berdiri engga ada mesin yang beli baru. Lalu saya ajak tetangga di sekitar sini untuk bantu-bantu buat daripada mereka engga ada kerjaan. Ada yang saya ajarkan untuk buat adonan, ada yang mengopersikan mesin pembuat krim, ada yang mengoperasikan oven, ada yang bertugas mengirim roti ke warung-warung, yang jago internet saya tugaskan untuk promosi lewat media sosial, dan untuk yang perempuan saya tugaskan untuk proses pengemasan.


Tata Letak Pabrik

Pernah ada kendala engga sih mas selama proses produksi sejauh ini?
Kendala pernah terjadi waktu mesin pengaduk yang 10 kg rusak, disitu kami kewalahan karena hanya mengandalkan mesin yang 4 kg saja. Sementara pesanan sedang banyak-banyaknya. Akhirnya mau engga mau kami tolak pesanan seperti untuk hajatan, khitanan, dan lain-lain. Kami fokus hanya untuk persediaan ke warung-warung aja, dan otomatis pendapatan menurun drastis. Akhirnya saya bicarakan dengan pekerja saya bagaimana baiknya, dan akhirnya mau engga mau gaji mereka dipotong sedikit.

Tapi sekarang sudah bisa lagi kan mas mesin yang rusak tersebut?
Iya sudah bisa digunakan lagi, waktu itu ada temennya pekerja saya yang perbaiki mesin tersebut.

Sekarang pekerjanya ada berapa ya mas kalau boleh tau?
Pekerja nya itu sekarang berjumlah 32 orang, yang terdiri dari owner yaitu saya sendiri, administrasi, bagian produksi, bagian keuangan, bagian pengemasan, dan bagian pemasaran. Dan Alhamdulillah semua karyawan berdomisili di sekitar sini, jadi saya selain buka usaha juga memberi kerjaan kepada mereka, dan memberi makan untuk keluarganya. Untuk gajinya sendiri itu sesuai UMR Cilacap yaitu 1,4 juta, dengan sistem pemberian 2 kali di tanggal 4 dan tanggal 20 setiap bulannya, sekali pemberian 700 ribu. Bila pesanan banyak kemungkinan akan lembur, maka akan dapat bonus lagi.


Struktur Organisasi

Alhamdulillah sekali ya mas bisa sambil bersedekah juga memberikan lapangan pekerjaan. Kalau boleh tau mas ini roti dijual atau dikirim kemana saja ya?
Kalau untuk sekarang kami sudah cukup luas dari Kabupaten Cilacap semua sudah kami pasarkan, Purwokerto, Banyumas, Gombong, sampai ke Kebumen. Dan kami ada rencana untuk tahun depan mulai melakukan pemasaran ke Wilayah Banjarnegara dan Yogyakarta.

Wah saya doakan bisa memasarkan sampai Yogyakarta ya mas. Untuk saat ini sudah ada berapa varian roti ya mas?
Untuk sekarang sudah ada 10 varian roti yaitu roti tawar susu, roti manis coklat, roti manis pandan, roti roll, roti sisir, roti bulat, roti kasur 4, roti kasur 12, roti bantal 18 bajul , dan roti burger. Nantinya juga mau buat roti isi strowberry dan roti isi keju.


Roti Tawar Susu Produksi UD Lestari Mandiri

Kalau boleh tau untuk omset nya sendiri dalam sebulan bisa dapat berapa ya mas?
Kalau untuk penjulannya sendiri bisa mendapatkan keuntungan sampai sekitar 60 juta/bulan. Dipotong untuk memberi gaji ke karyawan sebanyak 31 orang, untuk ke saya sendiri Alhamdulillah bisa 8-10 juta.

Terakhir mas harapannya untuk kedepan?
Harapan saya semoga Perusahaan ini tetap bisa bersaing dengan kompetitor dan tidak kalah dengan Perusahaan roti yang sudah ternama. Dan semoga Perusahaan ini dapat memberikan manfaat kepada orang-orang dan dapat menginspirasi anak-anak muda untuk tidak takut dalam membuka usaha, sekecil apapun peluang coba dimaksimalkan dan jangan gampang menyerah, jatuh bangun dalam membangun usaha itu sudah biasa, yang terpenting bagaimana kita menyikapinya.

Terima kasih ya mas untuk waktunya, saya jadi banyak dapat pelajaran. Semoga lain waktu kita dapat bertemu lagi.
Iya sama-sama, semoga adek sukses kuliahnya, dilancarkan segala sesuatunya.

Demikianlah bincang-bincang saya denga mas Heri. Semoga para pembaca dapat mengambil pelajaran dari lika-liku kehidupannya. Bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja, perlu pengorbanan dan kerja keras untuk mendapatkannya. Jatuh bangun itu biasa, yang penting jangan putus asa.

Jumat, 26 April 2019

Kisah Sukses Pengusaha Pupuk

Ahmad Baihaqi adalah alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Dialah si pemilik kios. Meski masih 27 tahun, dia adalah ”bos” usaha pertanian beromzet puluhan juta rupiah per bulan tersebut.
Usaha pertanian itu tidak diperoleh dengan mudah. Awal lulus kuliah pada 2013, Baihaqi tidak ujug-ujug membuka usaha. Sebagaimana sarjana lain, dia melanglang buana mencari pekerjaan. Incarannya adalah perusahaan mentereng di bidang pertanian. Sebut saja PT Petrokimia Gersik, PT Pupuk Kaltim Indonesia, PT Pupuk Sriwijaya, dan PT Pupuk Kujang.
”Enam kali bolak-balik ke Jakarta cari kerja,” katanya. Selama hampir setahun, Baihaqi rela bolak-balik dari Gresik ke ibu kota demi memenuhi panggilan interview kerja. Sayang, tidak satu pun perusahaan memberikan kesempatan kepada mantan penerima beasiswa United Tractors tersebut.
Pada Desember 2013, sang ayah, Nachrowi, jatuh sakit. Baihaqi dan saudaranya harus bergantian menjaga sang ayah di rumah sakit. Semangat mencari kerja pun kendur. ”Bingung. Tidak bisa meninggalkan abah,” ujarnya. Sejak saat itu, Baihaqi mulai berpikir mendirikan usaha. Berbekal ilmu pertanian, dia memilih usaha di bidang tersebut. ”Sayang kalau ilmu selama kuliah tidak dipakai,” tuturnya.
Bermodal Rp 5 juta, Baihaqi berusaha membuat salah satu produk pupuk cair. Meski bukan produk terkenal, dia yakin bisa memasarkannya. Baihaqi berbisnis ala prajurit di medan tempur. Dia bergerilya ke berbagai kota di Jawa Timur. Mulai Pasuruan, Probolinggo, Malang, Jombang, Mojokerto, Lamongan, hingga Jember. Hampir semua kota di Jatim pernah dijelajahi.
Setiap pekan, Baihaqi berkeliling ke sejumlah kota. Tekadnya keras. Di punggungnya, selalu ada ransel hitam berisi satu jeriken kecil pupuk cair. Tujuan utamanya, menemui petani di daerah-daerah. Bagaimana hasilnya? Tidak sedikit petani yang menolak. Selain tergolong produk baru, pupuk cair Baihaqi dianggap kurang berkhasiat. ”Bahannya organik. Reaksinya lama. Tidak seperti pupuk kimia yang cepat bereaksi,” terangnya.
Penolakan para petani tidak menyurutkan semangatnya. Pemuda kelahiran 28 November 1990 itu berusaha memasarkan pupuknya melalui marketplace online. Baihaqi mengaku kalah jauh jika harus bersaing dengan perusahaan pupuk raksasa di Kota Pudak dalam pemasaran konvensional.
Nah, respons pasar online memberikan angin segar. Satu per satu pesanan pupuk berdatangan dari kota di luar Jawa. Mulai Medan, Samarinda, Bengkulu, hingga kota-kota di Nusa Tenggara Timur (NTT). ”Hasil order online lumayan,” ucapnya.
Pasar konvensional perlahan mengikuti. Beberapa pesanan dari luar kota mulai berdatangan. Salah satunya adalah petani Kabupaten Lamongan sebagai pasar andalannya. Baihaqi mulai membentuk jaringan. Mulai teman-teman alumni hingga rekan bisnis baru. Seiring dengan berjalannya waktu, jaringannya makin luas. ”Mulai buka toko kecil-kecilan di garasi rumah,” ungkapnya.
Di tengah perjalanan, muncul batu sandungan yang berujung pada masalah hukum. Saat itu, Baihaqi bersiap mengirim barang ke Kabupaten Lamongan. Oleh seorang sahabatnya, dia diminta memberikan nota kosong. Tanpa punya pikiran negatif, Baihaqi memberikannya. Tidak disangka, nota kosong tersebut berujung sial. ”Yang di-mark up bukan harga. Melainkan jenis dan item barang. Jadi, ada tambahan beberapa barang yang seharusnya tidak ada di nota,” paparnya.
Sejak saat itu, dia lebih berhati-hati. Sebab, kasus tersebut berdampak pula pada penjualan pupuk cair yang selama ini dirintis. Meski sempat goyah, dia tidak pesimistis. Pada 2015, dia mendirikan toko di sebelah rumah, Desa Menganti, Kecamatan Menganti.
Baihaqi mulai membuka pikiran. Pupuk organik bukan satu-satunya jalan untuk mengais rezeki. ”Dulu masih idealis. Sekarang mulai open minded ke produk lain. Kalau ada peluang, harus dimaksimalkan,” lanjutnya. Kepada konsumennya yang rata-rata adalah petani, Baihaqi ”hobi” memberikan edukasi. Ada beberapa konsumen yang segan karena hanya bertanya, tapi tidak beli. ”Sebenarnya tidak masalah,” jelasnya.
Menurut dia, background pendidikan maupun pengalaman organisasi cukup penting. Misi utamanya harus bisa mengedukasi masyarakat. Konsumen harus senang dan lebih puas. ”Jadi, tidak hanya jual produk, dapat uang, selesai,” terangnya.
Julaikah, petani jagung asal Domas, Kecamatan Menganti, mengaku kerap diberi pengarahan ketika memilih produk pertanian. Menurut dia, banyak ilmu baru yang diperoleh. ”Bisa dapat konsultasi gratis,” tuturnya.
Hingga kini, Baihaqi sering menerima order dari luar pulau. Baru dua tahun berjalan, omzet yang didapat dari kios miliknya mencapai Rp 80 juta per bulan. ”Kuncinya, harus mau bekerja keras dan siap berkompetisi,” pungkas Baihaqi.